madyapadma

madyapadma
my first teacher in journalistic
Showing posts with label sosial. Show all posts
Showing posts with label sosial. Show all posts

Thursday, October 21, 2010

Sedikit tentang "Indonesia"



Saya yakin sebagian besar penduduk Indonesia tidak mengetahui secara pasti bagaimana sejarah Nama Indonesia, kalaupun ada yang tahu itu dipastikan hanya sekian persen dari keseluruhan Warga Negara Indonesia. Padahal sangatlah penting kita mengetahui bagaimana asal usul nama Indonesia yang sekarang ini kita pakai. Oleh sebab itu saya mencoba mencari tahu tentang Asal-usul Nama Negara Indonesia.

Saya menemukan sebuah situs yang mengutip sekilas tentang asal-usul Nama Indonesia, dari situ saya tertarik untuk mebuat postingan tentang Asal-usul Nama Indonesia. semoga dari blog yang sederhana ini dapat menumbuh kembangkan rasa cinta tanah air kita sebagai Bangsa Indonesi.

Pada zaman purba, kepulauan tanah air disebut dengan aneka nama. Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan tanah air dinamai Nan-hai (Kepulauan Laut Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata Sansekerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Walmiki menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai ke Suwarnadwipa (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.

Bangsa Arab menyebut tanah air kita Jaza’ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan adalah benzoe, berasal dari bahasa Arab luban jawi (kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatera. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil “Jawa” oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekalipun. Dalam bahasa Arab juga dikenal Samathrah (Sumatra), Sholibis (Sulawesi), Sundah (Sunda), semua pulau itu dikenal sebagai kulluh Jawi (semuanya Jawa).

Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab, Persia, India dan Tiongkok. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Tiongkok semuanya adalah “Hindia“. Semenanjung Asia Selatan mereka sebut “Hindia Muka” dan daratan Asia Tenggara dinamai “Hindia Belakang”. Sedangkan tanah air memperoleh nama “Kepulauan Hindia” (Indische Archipel, Indian Archipelago, l’Archipel Indien) atau “Hindia Timur” (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang juga dipakai adalah “Kepulauan Melayu” (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l’Archipel Malais).

Pada jaman penjajahan Belanda, nama resmi yang digunakan adalah Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur).

Eduard Douwes Dekker ( 1820 – 1887 ), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu Insulinde, yang artinya juga “Kepulauan Hindia” ( Bahasa Latin insula berarti pulau). Nama Insulinde ini kurang populer.

Nusantara

Pada tahun 1920, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker ( 1879 – 1950), yang dikenal sebagai Dr. Setiabudi (cucu dari adik Multatuli), memperkenalkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur kata “India”. Nama itu tiada lain adalah Nusantara, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 lalu diterjemahkan oleh JLA. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.

Pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit, Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam Bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari Jawadwipa (Pulau Jawa). Sumpah Palapa dari Gajah Mada tertulis “Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa” (Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat).

Oleh Dr. Setiabudi kata nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi jahiliyah itu diberi pengertian yang nasionalistis. Dengan mengambil kata Melayu asli antara, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu “nusa di antara dua benua dan dua samudra”, sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi nusantara yang modern. Istilah nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda.

Sampai hari ini istilah nusantara tetap dipakai untuk menyebutkan wilayah tanah air dari Sabang sampai Merauke.

Indonesia

Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan ( 1819 – 1869 ), seorang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Ingris, George Samuel Windsor Earl ( 1813 – 1865 ), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.

Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis:

… the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians“.

Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon ( Srilanka ) dan Maladewa. Earl berpendapat juga bahwa nahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini. Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.

Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago. Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah “Indian Archipelago” terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.

Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan:

Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the IndianIslands or the Indian Archipelago“.

Ketika mengusulkan nama “Indonesia” agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama resmi. Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama “Indonesia” dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi.

Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826 – 1905 ) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air pada tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah “Indonesia” di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah “Indonesia” itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indie tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah “Indonesia” itu dari tulisan-tulisan Logan.

Pribumi yang mula-mula menggunakan istilah “Indonesia” adalah Suwardi Suryaningrat ( Ki Hajar Dewantara ). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau.

Nama indonesisch (Indonesia) juga diperkenalkan sebagai pengganti indisch (Hindia) oleh Prof. Cornelis van Vollenhoven (1917). Sejalan dengan itu, inlander (pribumi) diganti dengan indonesiƫr (orang Indonesia).

Monday, October 18, 2010

Wirausaha Lokal, Pasar Dunia



Wirausahawan muda, khususnya di Bali mulai banyak bermunculan sejak kesuksesan beberapa wirausahawan lokal. Sebut saja usaha sepatu Nilou yang sampai mampu menembus pasar dunia. Atau Wensislous Makmur, seorang pengrajin tas karung beras yang sudah bermain di pasar global. Tidaklah heran kalangan muda di Bali mulai berhasrat menciptakan lapangan kerja mereka sendiri.

Tentu merupakan hal positif bila anak muda mau berwirausaha. Selain dapat menciptakan lapangan kerja sendiri, berwirausaha juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain. Secara tidak langsung, wirausaha juga mengurangi angka pengangguran. Namun, belakangan banyak wirausahawan yang gulung tikar. Ada apa gerangan?

Hal itu merupakan dampak pasar lokal yang kurang menjanjikan. Konsumen dalam negeri akan lebih memilih produk kreasi buatan luar daripada kreasi anak bangsa. Selain karena faktor nama besar, juga moral bangsa kita yang bangga menggunakan barang-barang luar negeri.

Mereka yang bermain di pasar ini (nasional), kebanyakan kalah pamor dengan produk kreasi impor yang sudah memiliki nama. Tentu saja hal itu hanya karena stigma yang berkembang di masyarakat. Stigma yang berkata,”produk luar lebih memiliki pamor ketimbang produk lokal”. Sebenarnya, yang ingin dibeli konsumen bukannya kualitas barang melainkan sebuah ”nama”. Produk luar yang telah memiliki nama, akan diminati oleh konsumen. Meskipun dari segi kualitas maupun model, produk dalam negeri tidak kalah saing

Apabila tetap berusaha bermain di pasar lokal, maka hasilnya nihil. Layaknya menebar garam di lautan.

Seperti halnya usaha sepatu Nilou yang di bangun Ni Luh Ary Pertami Djelantik. Ia tak lantas bermain di pasar lokal, namun melakukan gambling dengan langsung mencoba peruntungan di pasar dunia. Hasilnya, Nilou berhasil mencuri hati dunia. Dengan kerja keras dan semangat berwirausaha, menjadikannya salah satu wirausahawan muda sukses di Bali. Secara otomatis, pasar lokalah yang “mengunjunginya”.

Pasar Internasional memiliki “rasa” yang berbeda dengan pasar nasional. Konsumen di sana (Internasional) lebih mementingkan kualitas dan inovasi ketimbang nama besar. Oleh karena itu, persaingan di pasar dunia lebih terasa. Namun di sisi lain, hal itu menjadi jalan masuk bagi bisnis mandiri lokal yang memiliki inovasi serta kreasi tinggi.

Menilik dari kisah Nilou, wirausaha, khususnya di Bali sebaiknya tidak menargetkan tembus pasar nasional dulu. Namun, memiliki impian untuk langsung menembus pasar yang lebih luas, dengan konsumen yang lebih heterogen. Didukung dengan kualitas dan model “up to date, produk kita tidak akan kalah bersaing di pasar Internasional.

Terbesit kata, “mengapa kita mengambil pisau bila sudah disiapkan pedang”. Kutipan kata ini seakan memberikan kita gambaran. Sebagai seorang wirausaha, kita harus berani mengambil resiko. Bila kita terlalu takut menapaki dunia luar, lebih baik kita manjadi orang yang terpimpin. Karena orang yang berani mengambil resikolah seorang pemimpin. (una)

Saturday, September 18, 2010

Multikultur, Perlukah Toleransi ?

Dahulu, Bali dikenal sebagai pulaunya Hindu. Karena pada masa itu, mayoritas panduduk Bali merupakan agama Hindu. Oleh karena itu, Bali dikenal pula sebagai pulau seribu pura, dimana pura merupakan tempat ibadah agama Hindu.

Seiring perkembangan zaman, masyarakat Bali berkembang menjadi masyarakat yang multikultur. Bali tidak lagi menjadi milik orang Bali saja, melainkan milik bangsa, bahkan milik dunia. Tapi, meskipun Bali telah berkembang menjadi menjadi masyarakat yang heterogen, penduduk agama Hindu tetap mendominasi.

Berdasarkan data dari Dinas Kependudukan Bali, persentase pemeluk agama Hindu 67,94 %, Islam 23,03 %, Kristen 2,24 %, Protestan 4,87 % dan Buddha 1,97 %. Data itu menunjukkan agama Hindu tetap mendominasi, tapi kita juga melihat perkembangan agama lain, diantaranya Islam dan Kristen.

Baliu merupakan desa dunia, tujuan wisata dunia yang datang dari berbagai belahan bumi, membawa begitu banyak kepentingan yang dilakukan di Bali. Dengan adanya berbagai pelaku budaya yang mendiami pulau ini, maka dalam mengekspresikan aspirasi atau kepentingan masing-masing, lambat laun akan terjad gesekan-gesekan budaya, ideologi, paham, bahkan akan terjadi pengeroposan budaya lokal.

Perbedaan kepentingan akan menimbulkan konflik-konflik sosial yang berakibat perpecahan masyarakat Bali. Ditambah dengan kejadian Bom Bali yang dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dan mengatas namakan agama. Peristiwa tersebut seakan memprovokasi masyarakat terhadap suatu agama tertentu sebagai penyebab tragedi tersebut. Dan itu merupakan salah satu penyebab timbulnya rasa saling curiga, yang tentu saja memicu terjadinya konflik antar agama di tengah masyarakat Bali yang multikultur.

Kecurigaan yang timbul dalam masyarakat akibat dari ketidakpercayaan masyarakat terhadap agama tertentu. Ada 2 hal yang mungkin menjadi penyebab ketidakpercayaan tersebut. Yang pertama, toleransi antar agama sudah dieliminasi dari kehidupan bermasyarakat. Toleransi merupakan sikap yang dapat membuat 2 hal yang berbeda menyatu. Bila toleransi sudah dtiadakan, baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun kehidupan beragama, akan terjadi suatu ketidakharmonisan dalam masyarakat itu.

Yang kedua adalah sikap keterbukaan. Bila suatu golongan masyarakat terbuka terhadap golongan masyarakat lain, maka akan timbul toleransi antar masyarakat. Keterbukaan dan toleransi merupakan 2 hal yang saling berkaitan. Bila sikap keterbukaan telah terjadi maka toleransi pun akan muncul.

Seperti apa yang terjadi di kampung Bugis dan kampung islam Kepaon dengan masyarakat Hindu di sekitarnya. Ditengah maraknya berbagai macam konflik sosial yang pada akhirnya sering mengatasnamakan agama, mereka selalu mengatasinya dengan keterbukaan dan kekeluargaan. Sikap toleransi tersebut disebabkan oleh nilai-nilai sejarah yang selau mereka jadikan pedoman dan diimplementasikan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Bial suatu masyarakat minoritas menjaga sikap keterbukaan terhadap masyarakat mayoritas, maka toleransi akan muncul. Hal tersebut akan menimbulkan keharmonisan dan kerukunan antar masyarakat. Untuk merealisasikan hal tersebut, perlu adanya sikap saling percaya dan menghargai antar masyarakat. Kepercayaa disini diperlukan untuk menghilangkan kecurigaan akibat perbedaan yang ada.

Bukannya perbedaan yang menyebabkan hal tampak indah???

Thursday, July 29, 2010

"Global Warming" Need Attention

Global warming is an environmental issue that affects everyone in the world. Rising temperatures and changing climate patterns have reached every corner of the world and without a dedicated effort they will continue to affect every nook and cranny of the Earth and everyone that lives in them. Sadly few people truly understand climate change and global warming, so few people are able to act efficiently to stop it.

Global warming is a phenomenon by which temperatures are rising all over the world. In fact, the ten hottest years ever recorded have all occurred since 1990, and experts predict that in the next century average temperatures around the world will continue to rise. These rising temperatures are the result of a more general climate change, or literally the changes in the climate of a given area including changes in its average temperatures, wind patterns and amounts of rainfall. Taken together, climate change and global warming are the ingredients for an environmental disaster the likes of which the world has never seen.

Though some people may still debate the causes of global warming, scientists are now confident that greenhouse gases such as carbon dioxide and methane which released into the atmosphere heavily contribute to the problem. The United Nations has attempted to limit these harmful greenhouse gases with the Kyoto Protocol, a set of guidelines that asks countries to meet a target to reduce greenhouse gases to a level that will not interfere with the climate or cause further damage. Since signing the Kyoto Protocol, the United Nation's greenhouse gas emissions have indeed been reduced, but unfortunately there is still a long way to go.

In order to truly make a dent in global warming the United Nations must still cut their greenhouse gas emissions and reduced their carbon footprint to lower levels, so calling or writing to your local newspaper and stating your support for such a reduction is a great start to fighting climate and global warming. While you are contacting your local news paper, be sure to urge him to back a law that will also require greenhouse gas reduction each year – just for good measure.

On a smaller scale, you can also fight climate change and global warming in your own home. Lower you carbon footprint. Be sure to turn off the light and unplug electrical equipment when not in use. Reduce the number of spray product you use for personal care. Recycling as many items as you can everyday is another important step toward fighting global warming, as is using trains, boats or efficient cars when traveling rather than flying in order to limit carbon emissions from planes. Even with small step such as these you will be fighting the good fight and limiting your own carbon footprint, thus fighting global warming each and every day. No one could ask for more than that.

As we know, global warming made a lot of problem. Especially in a South and North Pole who damages could impact the entire world. If planet earth still in this position, the temperature will grow up. If planet earth getting hot, automatically both pole will melting. That’s the worst situation that could happen. If that situation become real, all countries who placed in lower ground, will drawn and disappear. So, if planet earth still likes this, in 10 years later, the populations in this world are getting down.

The other case, global warming also disturbs the people who lived in this planet. In the past, people don’t need to use a fan or Air Conditioner (AC). But look at now, almost all people who lived in the city used AC in their house or building. It tells us, that planet earth is getting hot. Not only pole, we also can feel it by our self. If we walked at the street in the middle of the day, we will feel heat. Don’t underestimating this case. If this happen over and over, we can hit skin cancer. So, we can take it easy, this case need an attention not only from government, but also people.

According the fact above, even small thing could help the planet earth. You don’t think you must do a big change to save the world, because with the smallest step, you can do a big change for world. Even you are teenager, do not stop you to act. We, as the new generation, have a responsibility to manage the world later. The most important things if you want to save the planet earth, you must though that you can. Do not care if some people jeer you. So, why don’t we start now!!! (utm)

Wednesday, July 7, 2010

Keluarga, Motivator Terbaik

HIV/AIDS, siapa yang tidak mengetahui penyakit ini. HIV merupakan salah satu penyakit menular paling datakuti saat ini. Selain karena belum ditemukannya vaksin/ obat yang dapat menyembuhkan penyakit ini, juga karena penularannya yang relative cepat. Umumnya, virus HIV ditularkan melalui hubungan seks dan penggunaan jarum suntik.

Di luar itu, terdapat hal yang lebih kompleks. Para ODHA (orang dengan HIV/AIDS) seakan dikucilkan dalam kehidupan bermasyarakat. Itu akibat dari stigma masyarakat tentang ODHA dimana ODHA selalu dianggap sampah masyarakat. Selain itu, stigma tersebut juga membuat ruang gerak ODHA untuk berekspresi menyempit. hal itu secara tidak langsung memenggal hak para ODHA untuk membuka diri.

Di sini, anggapan masyarakat tentang orang dengan penyakit AIDS menjadi momok bagi para ODHA. Masyarakat seakan menghakimi tanpa tahu apa itu HIV/AIDS. Mereka sudah terpengaruh oleh stigma yang selama ini berkembang di Masyarakat. Stigma bahwa ODHA adalah sampah masyarakat. Mereka tidak mau tahu apa yang dirasakan para ODHA. Mereka hanya berpikir sepihak.

Oleh karena diskriminasi lingkungan sekitarnya, banyak para ODHA yang lantas frustasi dan tenggelam dalam kesendirian. Mereka menganggap bahwa hidup mereka sudah tidak berarti lagi.

Dari beberapa kasus yang dicatat yayasan Bali Plus periode Januari sampai September 2009, 9 ODHA ditolak oleh keluarganya dari 3014 kasus. Rata-rata alasannya karena keberadaan ODHA tersebut dianggap aib bagi keluarga. Jadi, dukungan keluarga di sini sangat penting agar para ODHA merasa bahwa dia tidak sendirian.

Selama ini para ODHA selalu bergerak di bawah naungan sebuah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). Di sana, mereka dapat mengekspresikan diri tanpa takut didiskriminasi. LSM di sini layaknya keluarga kedua bagi para ODHA. Di sini mereka dapat bertemu orang-orang yang juga sama dengan mereka. Jadi mereka lebih bisa mengerti satu sama lain.

Di sini, keluarga perlu memberikan perhatian lebih bagi anggota keluarganya yang terkena HIV/AIDS. Itu karena mereka yang terkena virus mematikan ini akan merasa hidup mereka sudah tidak lagi berarti. Maka dari itu, peran keluarga sebagai orang terdekat sangatlah penting untuk memberikan motivasi agar semangat hidupnya kembali.

Tuesday, July 6, 2010

disiplin yang memudar

Disiplin selama ini merupakan gambaran SMA N 3 Denpasar. Betapa tidak, sejak didirikan pada 17 Januari 1977, predikat disiplin telah melekat pada salah satu sekolah favorit di Denpasar ini. Selama beberapa dekade, kedisiplinan sekolah berjuluk Trisma ini menjadi salah satu daya tarik di masyarakat.

Kedisiplinan di SMA N 3 Denpasar atau yang biasa disebut Trisma memang tak perlu diragukan. Banyak kalangan masyarakat menggelontarkan pujian untuk hal yang satu ini. Para alumninya bangga akan penegakan kedisiplinan di Trisma. Mereka percaya kedisiplinan itulah yang membuat mereka berhasil di masyarakat.

Penegakan kedisiplinan di Trisma memang terkenal ketat. Para guru setiap pagi akan turun ke lapangan untuk mengawasi siswa-siswanya yang melanggar. Tak tanggung-tanggung, sanksinya pun akan langsung diberikan saat itu juga. Salah satu aturan yang terkenal ialah aturan yang melarang siswa-siswanya membawa sepeda motor. Karena aturan inilah Trisma sempat menjadi primadona di Denpasar. Selain itu, para siswa pun dilarang membawa alat komunikasi atau handphone (HP).

Seiring perkembangan zaman, kedisiplinan itu pun mulai luntur. Penegakan kedisiplinan berangsur-angsur melemah, seakan ada intervensi dari dalam. Aturan yang dulu sempat membuat Trisma dipandang, sekarang hanya berupa tulisan di atas kertas. Tak ada yang mengindahkan. Aturan “dilarang membawa sepeda motor” pun di cabut saat Trisma genap berusia tiga dasa warsa. Hal tersebut tak pelak membuat telinga beberapa alumni Trisma panas. Mereka menganggap Trisma di usianya yang semakin dewasa, malah mengalami kemunduran.

Disiplin yang merupakan ciri khas Trisma sekarang hanya berupa anggapan. Masyarakat memang masih mengenal Trisma disiplin, namun mereka tidak menyadari pengeroposan kedisiplinan dalam tubuh Trisma.

Bila dibandingkan dengan sekolah lain di Denpasar, SMA N 3 Denpasar merupakan sekolah yang disiplin. Namun bila dibandingkan dengan Trisma dahulu, kedisiplinan Trisma sekarang jauh tertinggal. Pengeroposan kedisiplinan jelas dirasakan oleh guru yang mengenal Trisma dari awal terbentuknya. Faktor lingkungan sangat besar pengaruhnya terhadap penurunan kedisiplinan. Bila siswa bergaul di lingkungan yang disiplin, maka secara tidak langsung ia pun akan disiplin. Namun, bila siswa bergaul dengan orang-orang yang tidak disiplin, maka ia pun akan menjadi tidak disiplin, bahkan cenderung berontak. Disini, peran keluarga sangat penting untuk mengarahkan anaknya.

Selain itu, disiplin juga datang dari dalam diri sendiri. Jadi kitalah yang membuat diri kita disiplin, bukan orang lain. Orang lain hanya sebagai perantara yang mengajarkan kedisiplinan. Kitalah yang memutuskan akan menerapkan kedisiplian itu atau tidak. Jadi diperlukan suatu kesadaran dari dalam diri sendiri untuk menjadi disiplin. Bila tak ada kesadaran, meski kita di ajarkan tata cara kedisiplinan setiap hari, tak akan ada artinya.

Kedisiplinan merupakan sikap patuh akan aturan. Jadi mereka yang disiplin akan mentaati aturan yang berlaku. Bagi mereka yang tidak disiplin, akan mencoba untuk “mengalahkan” aturan. Mereka secara tidak langsung membuat aturan mereka sendiri, yang tentu saja bersimpangan dengan aturan yang berlaku. Hal itu mengakibatkan, para siswa menjadi kurang menghormati guru mereka. Mereka merasa bahwa diri merekalah paling benar.

Penurunan kedisiplinan juga berdampak pada pola prilaku siswa. Hal tersebut dapat dihindari dengan menanamkan nilai-nilai kedisiplinan tersebut sejak usia dini. Karena, semakin dewasa, mereka akan semakin sulit menerima nilai-nilai tersebut. Bila kedisiplinan itu sudah tertanam sejak dini, maka sampai dewasa pun akan tetap terjaga.

Selain itu, para guru juga harus lebih memperhatikan anak murid mereka. Hal itu dapat direalisasikan dengan melakukan sidak (inspeksi mendadak) secara rutin. Bila ada yang melanggar, beri teguran atau langsung beri sanksi bila keterlaluan. Bila tidak, maka siswa akan merasa dibebaskan dan lama kelamaan akan semakin menjadi-jadi.

Apakah kita ingin SMA N 3 semakin terpuruk ??? (utm)